Kesetaraan & Kesejahteraan Daerah

dpd2
Seandainya saya menjadi Anggota DPD RI, saya akan berusaha mengemban amanah yang berat ini dengan semaksimal mungkin. Kesejahteraan masyarakat daerah tentu menjadi tujuan utama & merupakan prioritas yang harus segera direalisasikan. Jangan sampai saya mengecewakan & menghianati mereka yang telah memilih saya untuk menyalurkan aspirasinya. Tidak mudah memang memikul amanah ini karena pertanggungjawabannya tidak hanya di dunia tapi juga sampai di akhirat. Itulah yang harus tetap diingat oleh setiap anggota DPD agar mereka tetap berada dalam koridor yang benar.
Sesuai dengan Visi DPD RI yaitu :
“Terwujudnya Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) sebagai lembaga legislatif yang kuat, setara dan efektif dalam memperjuangkan aspirasi rakyat dan daerah menuju masyarakat Indonesia yang bermartabat, sejahtera, dan berkeadilan dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).”
Dan salah satu Misi DPD RI yaitu :
“Memperjuangkan aspirasi rakyat dan daerah untuk mewujudkan pemerataan pembangunan kesejahteraan rakyat dalam rangka memperkukuh keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia secara berkesinambungan.”
Maka seharusnya tidak ada lagi istilah daerah tertinggal, saya akan mendorong Pemerintah Pusat & Daerah untuk memperhatikan kepentingan-kepentingan vital masyarakat daerah saya seperti pendidikan, kesehatan, & infrastruktur agar tercipta kesetaraan dengan daerah-daerah lain yang sudah maju.
Terkait dengan Fungsi Legislasi DPD RI yang meliputi :
Tugas dan wewenang:
Dapat mengajukan rancangan undang-undang (RUU) kepada DPR
Ikut membahas RUU
Bidang Terkait: Otonomi daerah; Hubungan pusat dan daerah; Pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah; Pengelolaan sumberdaya alam dan sumberdaya ekonomi lainnya; Perimbangan keuangan pusat dan daerah.

Saya akan memberikan masukan & mendukung pemerintah daerah untuk meningkatkan PAD demi kesejahteraan masyarakat daerah dengan cara memaksimalkan pengelolaan sumberdaya alam dan sumberdaya ekonomi lainnya yang berwawasan & ramah lingkungan. Dengan demikian diharapkan masyarakat daerah dapat memenuhi kebutuhan sendiri (swasembada) & mengurangi ketergantungan dari daerah lain serta mengurangi angka pengangguran.
Sudah saatnya ketahanan daerah-daerah diperkuat agar tidak ada lagi ketimpangan antar daerah yang menyebabkan pergolakan & keinginan memisahkan diri dari NKRI. Kalau tiap daerah sudah tercipta kesetaraan kesejahteraan maka secara otomatis ketahanan Negara pun akan menjadi kuat sehingga dapat tercapai Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Dengan demikian keutuhan & keharnonisan NKRI dapat tetap terpelihara.
lombadpd1

Minal Aidin Wal Faidzin

salam

Salah satu keutamaan puasa Ramadhan adalah menghapuskan dosa-dosa kita yang terdahulu, ini seperti sunnah Nabi Muhammad SAW yang artinya :

Siapa yang puasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” [HR. As-Syaikhân].

Allah telah berbaik hati dengan mengampuni dosa hamba-hambanya yang berpuasa Ramadhan maka sudah sewajarnyalah kita juga mau memaafkan dosa-dosa sesama manusia. Kompil sudah rangkaian ibadah di bulan Ramadhan ini yaitu dari mulai puasa (membersihkan dosa), lalu membayar zakat fitrah (kembali ke fitrah) dan disempurnakan dengan memaafkan antar sesama agar kita kembali ke fitrah kita seperti bayi yang baru lahir tanpa dosa.

Kenapa kita harus saling memaafkan ? Walaupun Allah maha pengampun tapi jika dosa yang kita lakukan terhadap sesama kita maka kita harus meminta maaf langsung kepada orang itu. Ini seperti sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA yang artinya :

Tiap hak harus dikembalikan kepada yang berhak pada hari kiamat sehingga diberi kesempatan bagi kambing yang tidak bertanduk untuk membalas kambing yang bertanduk untuk menanduknya. Kerana itu jika dosaku dengansesama manusia,  maka hendaklah diselesaikan dengan baik didunia, adapun kalau antara dia langsung dengan Allah SWT, maka Allah maha pengampun lagi mudah memaafkan asalkan mau bertaubat. Sebab tiap hak sesama manusia harus dikembalikan, jika tidak dikembalikan didunia maka harus dibayar (diganti) dengan hasanat kebaikan amal yang telah dilakukan pada hari kiamat.

Ini berarti bahwa selama kita bergaul hendaknya kita selalu menjaga sikap kita agar kita tidak menyakiti atau berbuat salah kepada orang lain. Untuk memastikan apakah kita pernah berbuat salah baik disengaja ataupun tidak maka momen Idul Fitri adalah saat yang tepat untuk saling memaafkan. Jika kita mempunyai salah ke orang lain dan tidak meminta maaf maka kita akan tergolong orang yang rugi di akhirat nanti, seperti sabda Rasulullah SAW berikut ini :

Tahukah kamu siapakah yang pailit dari umatku?”

Jawab sahabat: “Orang yang pailit itu ialah habis bersih harta kekayaannya dan belum terbayar semua hutangnya sehingga tidak punya harta benda.”

Rasulullah  SAW bersabda: ” Orang yang pailit dari umatku ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan lengkap pahala sholat dan puasanya tetapi ia sering menyakiti & berbuat aniaya terhadap orang lain. maka semua pahalanya itu akan diberikan kepada orang-orang yang ia sakiti & aniaya, jika pahala dari orang itu habis maka dosa dari orang yang ia sakiti & aniaya akan ditanggungkan kepadanya, kemudian ia dilempar kedalam neraka.”

Sungguh ngeri jika mendengar hadist tersebut, jadi tidak cukup dengan ibadah saja bekal kita ke akhirat tapi harus juga menjaga hubungan yang baik dengan sesama.

Minal Aidin Wal Faidzin sering kita ucapkan/dengar saat Idul Fitri tiba. Artinya kurang lebih adalah Mohon Maaf Lahir & Bathin. Kenapa harus memakai kata Lahir & Bathin ? Ini karena dosa kepada sesama memang bisa dilakukan baik secara lahiriyah maupun bathiniyah. Secara lahiriyah seperti dengan cara memukul, memaki, mencuri dll. Sedangkan bathiniyah dengan berprasangka buruk, fitnah dll.

Jadi memang kita harus meminta maaf baik dosa-dosa lahir maupun bathin, lebih baik lagi jika dalam meminta maaf kita berani menyebutkan kesalahan kita kepadanya seperti misalnya : “Mohon maaf karena kemarin saya telah menuduh anda melakukan ….”. Atau jika kesalahan kita mengambil barang orang lain maka wajib bagi kita selain meminta maaf juga mengembalikan barang yang pernah kita ambil. Kalaupun barang itu sudah tidak ada atau kita tidak sanggup mengembalikannya maka ada baiknya kita tetap mengatakannya kepada orang itu, tergantung bagaimana nanti kebijaksanaannya apakah diikhlaskan ataukan tetap kita ganti dengan mencicil yang terpenting orang tersebut harus tahu.

Intinya dalam bermaaf-maafan kedua belah pihak harus ikhlas & ridho dalam meminta maaf & memaafkan, sehingga nantinya tidak lagi diungkit-ungkit. Dan yang utama usahakan tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama di kemudian hari.

salaman

Puasa, Pasti Bisa

puasa1

Batal puasa, naudzubillah min dzalik mudah-mudahan kita semua dijauhkan dari hal tersebut. Sebetulnya puasa itu tidak berat, saya sendiri mulai puasa full sejak kelas 1 SD dan itupun tanpa paksaan atau iming-iming apapun. Seingat saya selama seumur hidup ini hanya 1/2 kali saya membatalkan puasa itupun bukan karena tidak kuat menahan haus & lapar tapi lebih ke tidak sanggup menahan godaan. Waktu itu kebetulan berada di kos-kosan dimana teman-teman disekitar saya semuanya tidak puasa & mengoda terus menerus, akhirnya jebol juga pertahanan saya. Ternyata rasanya membatalkan puasa itu tidak senikmat yang dibayangkan. Pada saat puasa kadang kita membayangkan seandainya makan/minum pasti nikmat sekali rasanya karena kondisi kita sedang lapar & haus, tapi jika kita benar-benar membatalkan puasa maka rasa nikmat itu seakan hilang & rasanya jadi biasa saja. Yang tak terkalahkan nikmatnya justru berbuka puasa. Pada saat berbuka perasaan kita gembira & bersyukur sehingga makan & minumpun terasa lebih nikmat.
Bagi mereka yang belum berusia lanjut tapi sudah sering membatalkan puasa bagi saya mereka itu terlalu memanjakan & lebih cinta diri sendiri daripada Allah. Padahal Allah dalam memberikan perintah tidak akan melebihi kemampuan hambanya. Bahkan pahala & berkah puasa berupa kesehatan adalah untuk manusia itu sendiri. Allah tidak pernah merasa rugi kalau kita tidak puasa, bahkan walaupun seluruh dunia ini tidak ada yang puasa, kebesaran Allah tidak akan berkurang sedikitpun.
Jadi pada dasarnya puasa itu diperintahkan untuk kebaikan manusia itu sendiri.
Hal yang Membatalkan Puasa
Berikut ini adalah hal-hal yang membatalkan puasa :

  1. Makan dan minum dengan sengaja. Bagi yang melanggarnya wajib mengganti puasa di luar bulan Ramadhan.
  2. Bersenggama (jima) pada saat waktu berpuasa . Bagi yang melanggarnya  wajib mengganti dengan berpuasa selama 2 bulan berturut-turut, jika tidak mampu berpuasa maka dengan memberi makan (fidyah) 60 orang miskin.
  3. Memasukkan makanan/cairan ke dalam perut/tubuh, seperti Infus dan transfusi darah pada orang yang berpuasa.
  4. Mengeluarkan air mani secara sadar/sengaja. Apabila tidak sadar seperti bermimpi maka tidak membatalkan puasa.
  5. Menstruasi/haid bagi wanita.
  6. Muntah (mengeluarkan makanan/minuman dari perut melalui mulut) dengan disengaja.
  7. Murtad dari Islam.

Ke 7 hal diatas kecuali sakit & menstruasi bagi wanita sebetulnya mudah untuk kita kendalikan. Sedangkan untuk  godaan dari lingkungan kita dapat kita siasati dengan banyak-banyak berdzikir dan beribadah serta mengurangi segala aktifitas yang makruh/sia-sia. Jadi sebetulnya puasa itu bisa kita lakukan asalkan didasari oleh niat yang kuat untuk beribadah kepada Allah SWT dan tidak ada alasan untuk membatalkan puasa.

Mari jadikan Ramadhan ini sebagai ladang pahala untuk bekal nanti.

Taqqoballahu minna waminkum

Sedekah

Di bulan Ramadhan ini semua amal baik akan dilipatgandakan pahalanya, oleh karena itu rugi kiranya jika kita tidak memanfaatkan moment ini sebaik mungkin.
Salah satu yang dianjurkan adalah sedekah. Sedekah seperti yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW dapat menghapus dosa/kesalahan jika dilakukan dengan ikhlas semata-mata karena Allah SWT. Dan dalam Al-Quran pun dianjurkan seperti dalam surat Ali Imron ayat 133-134 yang artinya :
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.
Dalam ayat itu Allah menganjurkan agar kita bersedekah baik di waktu lapang (disaat kita banyak rejeki) maupun sempit (saat sedang susah). Tentu saja Allah tidak akan melihat besarnya nominal yang kita keluarkan tapi niat & keikhlasanlah yang utama. Allah lebih mencintai orang miskin yang bersedekah dibanding orang kaya yang bersedekah. Orang kaya bersedekah itu wajar karena mereka bergelimang harta. Tapi orang miskin yang bersedekah itu baru luar biasa. Rp. 10.000,- bagi orang kaya mungkin tiada artinya tapi bagi orang miskin Rp. 10.000 yang harus dicarinya dengan membanting tulang tentu akan sangat berarti. Oleh karena itu sedekah Rp. 10.000, - oleh orang miskin tentu akan bernilai tinggi di mata Allah dibandingkan Rp. 10.000,- yang disedekahkan orang kaya.
Rasulullah SAW sendiri adalah sosok orang yang paling dermawan, bahkan kepada orang non muslimpun beliau tidak membeda-bedakan. Berikut salah satu kisah teladan Rasulullah SAW :

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata: “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya.”

Namun setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Rasulullah SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abu Bakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha dan bertanya kepada anaknya,
“Anakku adakah sunnah Rasulullah yang belum aku kerjakan?”.
Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya,
“Wahai Ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”.
“Apakah itu?”, tanya Abu Bakar r.a.
“Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke hujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana”, kata Aisyah r.ha.
Keesokan harinya Abu Bakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abu Bakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepadanya.
Sebagaimana kita ketahui bersama Abu Bakar r.a adalah sebagai Amirul Mu’minin (Khalifah/Raja/Presiden seluruh ummat Islam pada waktu itu.
Ketika Abu Bakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “Siapakah kamu?”.
Abu Bakar r.a menjawab, “Aku orang yang biasa”.
“Bukan!, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu,
“Ketika ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku dengan lembut”, pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abu Bakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu,
“Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.”
Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar r.a. ia pun ikut menangis, kemudian berkata,
“Benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia…”
Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya mengucapkan “Asyhadu An-Laa Ilâha Illallâh Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh..” dihadapan Abu Bakar r.a.

Setelah membaca kisah diatas maka sudah selayaknya kita sebagi umatnya menteladani sifat beliau yang dermawan terutama di bulan suci ini.
Jika kita belum bisa bersedekah di Ramadhan ini maka mulai sekarang kita niatkan & sisihkan sebagian rizky kita untuk kita sedekahkan kepada mereka yang membutuhkan. Tidak ada uangpun bukan penghalang untuk bersedekah, bahkan senyumanpun bisa menjadi sedekah.

Bukber di Masjid

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, baik berkah Pahala maupun makanan, he…he..he…. Ngomong-ngomong soal makanan, Inilah bulan dimana makanan sangat melimpah terutama menjelang magrib baik yang gratis maupun yang dijual. Kalau ada yang gratis kenapa harus beli…
Dulu waktu masih menjadi remaja masjid, kalau bulan puasa gini tugasnya menyiapkan makanan untuk buka bersama di masjid. Makanan-makanan itu diantarkan oleh warga secara sukarela jadinya makanannya beraneka ragam. Ada untungnya bertugas menyiapkan makanan berbuka yaitu bisa mensurvei terlebih dahulu mana yang kira-kira enak untuk disantap.
Kira-kira 1/2 jam sebelum buka kami sudah mulai menata makanan di piring-piring, dan menyiapkan teh untuk minumnya.
Sambil meletakkan piring-piring yang berisi makanan di teras mesjid timbul keisengan kami, yaitu meletakkan piring yang berisi makanan yang enak ke posisi duduk kami nantinya. Setelah selesai semua kami mengambil posisi duduk untuk menunggu buka

Dug…dug…dug…waktu buka puasa sudah masuk, tandanya kami sudah mulai boleh menyantap hidangan berbuka puasa. Wah…senang rasanya, sudah dapat makanan gratis…enak pula.
Itulah sukanya berbuka bersama, sedangkan dukanya yaitu karena kami yang menyiapkan makanan maka kami pula yang harus membereskan piring-piring & gelas. Sementara yang lain sudah bisa pulang setelah sholat Magrib kami masih harus tinggal dulu untuk mencuci piring & gelas. Tapi ada bonusnya juga yaitu makanan yang tersisa masih bisa kami nikmati.
Untungnya kami mengerjakan itu semua beramai-ramai sehingga tidak terasa capek.
Ramadhan memang bulan penuh berkah.