
Hari Raya Idul Fitri identik dengan Hari Mudik Nasional, bagi mereka yang punya kampung halaman & bekerja di luar kota tentu merupakan hari yang sangat dinanti-nanti. Karena pada kesempatan inilah moment yang tepat untuk silaturahmi dengan keluarga dekat maupun kerabat. Disamping silaturahmi kesempatan ini bisa juga digunakan untuk reuni dengan teman-teman sekampung yang biasanya kalau lebaran ngumpul semua. Inilah mengapa mudik diwaktu lebaran tak bisa tergantikan sensasinya dengan mudik di waktu yang lain. Kalau di luar lebaran mungkin hanya kita sendiri yang mudik di kampung tapi kalau lebaran mungkin kita bisa ketemu dengan mantan teman sekelas, mantan pacar, mantan selingkuhan, mantan musuh, dll yang tentunya bisa membangkitkan kembali memory masa lalu. Semakin jauh kampung halaman semakin seru acara mudiknya dari mulai antri tiket angkutan, antri naik angkutan sampai suka-dukanya desak-desakan didalam angkutan. Bahkan bagi beberapa orang nyawa bisa jadi taruhan.

Ilustrasi
Tapi itu semua tidak menyurutkan niat mereka untuk bisa mudik, terbukti ritual tahunan mudik selalu terjadi dan tidak pernah sepi.
Beberapa tahun belakangan ini juga semarak dengan diadakannya mudik bersama, biasanya diselenggarakan oleh perusahaan atau instansi. Hal ini tentu saja sangat membantu bagi mereka yang kurang mampu untuk dapat tetap mudik dengan aman & nyaman.
Tiba di kampung merupakan klimak dari ritual tahunan ini, rasa capek, haru, senang bercampur menjadi satu.
Saya sendiri mudik menggunakan mobil pribadi, tapi walaupun begitu masih saja merasa tidak nyaman karena kemacetan di jalan. Walaupun truk tidak diperbolehkan beroperasi di hari lebaran tapi sepeda motor lah yang mendominasi di jalan. Saya bisa maklum karena mudik dengan sepeda motor tergolong murah meriah.

Setiba dikampung halaman biasanya sudah malam jadi nggak banyak yang bisa dikerjakan selain menurunkan barang-barang bawaan dan lalu tidur untuk istirahat.
Besok paginya baru mulai dengan tradisi sungkem (cium tangan) kepada orang tua, lalu diteruskan dengan minta maaf dengan sesama saudara. Berhubung saya & adik-adik saya sudah berkeluarga maka suasana ramai dengan anak-anak kecil baik itu anak saya sendiri maupun keponakan. Untuk anak-anak, hari lebaran juga digunakan untuk mengumpulkan uang karena tradisi di setiap lebaran selalu ada acara bagi-bagi uang. Setelah itu baru bersilaturahmi ke saudara-saudara yang agak jauh.
Kalau saya sendiri yang paling saya tunggu-tunggu justru acara memancing. Biasanya setelah berkunjung ke saudara-saudara untuk silaturahmi, saya mengajak anak-anak untuk memancing, bahkan merekalah sebetulnya yang sudah tidak sabar untuk memancing. Di dekat rumah orang tua saya ada kolam pemancingan yang kalau lebaran pasti ramai, disitulah saya, anak-anak, dan keponakan saya memancing.
Memancing memang bukan hanya sekedar ketrampilan tapi ada faktor keberuntungannya. Ini terbukti pernah sekali waktu saya memancing hampir selama 2 jam tak satupun ikan mampir di mata kail saya, tapi anak-anak dan keponakan saya justru berkali-kali mendapat ikan. Wah malu juga dengan anak-anak kecil. Pulang dari mancing acara belum berakhir, dilanjutkan dengan bakar-bakan hasil memancing di halaman belakang rumah.
Suasana seru seperti itulah yang sangat saya rindukan setiap lebaran, masih kurang 20 hari lagi ya ?

