Ritual Tahunan

n1vdlg60og1
Hari Raya Idul Fitri identik dengan Hari Mudik Nasional, bagi mereka yang punya kampung halaman & bekerja di luar kota tentu merupakan hari yang sangat dinanti-nanti. Karena pada kesempatan inilah moment yang tepat untuk silaturahmi dengan keluarga dekat maupun kerabat. Disamping silaturahmi kesempatan ini bisa juga digunakan untuk reuni dengan teman-teman sekampung yang biasanya kalau lebaran ngumpul semua. Inilah mengapa mudik diwaktu lebaran tak bisa tergantikan sensasinya dengan mudik di waktu yang lain. Kalau di luar lebaran mungkin hanya kita sendiri yang mudik di kampung tapi kalau lebaran mungkin kita bisa ketemu dengan mantan teman sekelas, mantan pacar, mantan selingkuhan, mantan musuh, dll yang tentunya bisa membangkitkan kembali memory masa lalu. Semakin jauh kampung halaman semakin seru acara mudiknya dari mulai antri tiket angkutan, antri naik angkutan sampai suka-dukanya desak-desakan didalam angkutan. Bahkan bagi beberapa orang nyawa bisa jadi taruhan.

Ilustrasi

Ilustrasi


Tapi itu semua tidak menyurutkan niat mereka untuk bisa mudik, terbukti ritual tahunan mudik selalu terjadi dan tidak pernah sepi.
Beberapa tahun belakangan ini juga semarak dengan diadakannya mudik bersama, biasanya diselenggarakan oleh perusahaan atau instansi. Hal ini tentu saja sangat membantu bagi mereka yang kurang mampu untuk dapat tetap mudik dengan aman & nyaman.
Tiba di kampung merupakan klimak dari ritual tahunan ini, rasa capek, haru, senang bercampur menjadi satu.
Saya sendiri mudik menggunakan mobil pribadi, tapi walaupun begitu masih saja merasa tidak nyaman karena kemacetan di jalan. Walaupun truk tidak diperbolehkan beroperasi di hari lebaran tapi sepeda motor lah yang mendominasi di jalan. Saya bisa maklum karena mudik dengan sepeda motor tergolong murah meriah. macet1
Setiba dikampung halaman biasanya sudah malam jadi nggak banyak yang bisa dikerjakan selain menurunkan barang-barang bawaan dan lalu tidur untuk istirahat.
Besok paginya baru mulai dengan tradisi sungkem (cium tangan) kepada orang tua, lalu diteruskan dengan minta maaf dengan sesama saudara. Berhubung saya & adik-adik saya sudah berkeluarga maka suasana ramai dengan anak-anak kecil baik itu anak saya sendiri maupun keponakan. Untuk anak-anak, hari lebaran juga digunakan untuk mengumpulkan uang karena tradisi di setiap lebaran selalu ada acara bagi-bagi uang. Setelah itu baru bersilaturahmi ke saudara-saudara yang agak jauh.
Kalau saya sendiri yang paling saya tunggu-tunggu justru acara memancing. Biasanya setelah berkunjung ke saudara-saudara untuk silaturahmi, saya mengajak anak-anak untuk memancing, bahkan merekalah sebetulnya yang sudah tidak sabar untuk memancing. Di dekat rumah orang tua saya ada kolam pemancingan yang kalau lebaran pasti ramai, disitulah saya, anak-anak, dan keponakan saya memancing.
Memancing memang bukan hanya sekedar ketrampilan tapi ada faktor keberuntungannya. Ini terbukti pernah sekali waktu saya memancing hampir selama 2 jam tak satupun ikan mampir di mata kail saya, tapi anak-anak dan keponakan saya justru berkali-kali mendapat ikan. Wah malu juga dengan anak-anak kecil. Pulang dari mancing acara belum berakhir, dilanjutkan dengan bakar-bakan hasil memancing di halaman belakang rumah.
Suasana seru seperti itulah yang sangat saya rindukan setiap lebaran, masih kurang 20 hari lagi ya ?

pancing

Di Masjid pun seru

biak
Puasa-puasa gini jadi ingat waktu kecil di Biak-Papua. Waktu itu saya tinggal di Komplek Perumahan TNI-AU jadi lingkungannya sudah akrab semua. Ada sebuah masjid di komplek kami yang namanya Syuhada. Di mesjid inilah tradisi kami menghabiskan hari-hari Ramadhan dengan segala kegiatan yang kami buat. Pagi hari setelah sholat Subuh biasanya kami jalan-jalan pagi bersama baik laki-laki maupun perempuan. Hubungan antar kami sudah akrab malah seperti keluarga sendiri, mungkin karena kami senasib jadi perantauan di tanah orang. Disaat puasa kami justru jalan-jalan pagi yang jaraknya lumayan jauh sementara diluar bulan puasa kami tidak pernah melakukannya. Anehnya kami tidak merasakan capek, malah senang bisa kumpul sama teman-teman sambil bercanda.
Sekembalinya dari jalan-jalan kami tidak pulang ke rumah tapi justru menghabiskan waktu di masjid. Ada yang tidur-tiduran, ada yang ngobrol, ada pula yang sampai di bela-belain bawa meja karambol dari rumah. Main karambol di teras masjid membuat kami bisa melupakan rasa haus & lapar akibat puasa sehingga bisa tetap ceria bermain.
Setelah sholat Ashar biasanya kami pulang ke rumah sebentar & menjelang Magrib kami kembali lagi ke Masjid untuk ngabuburit sekalian buka bersama. Tidak seperti anak-anak lain di Pulau Jawa yang banyak tempat untuk ngabuburit, kami di sini cukup di Masjid.
Kami ikut menyiapkan makanan yang diantarkan orang-orang untuk berbuka sambil mensurvei kira-kira makanan apa yang enak sehingga waktu buka nanti kami sudah tahu mana yang harus dimakan, he…he…he…
Begitulah tradisi setiap Ramadhan waktu masa sekolah dulu di Biak, yang uniknya lagi pada saat Hari Raya Idul Fitri orang-orang Kristen pun ikut silaturahmi ke rumah orang-orang muslim jadi membuat suasana Lebaran menjadi meriah. Itu juga merupakan tradisi di Biak yang mencerminkan toleransi antar umat beragama di sana sangat baik.
Kangen juga kalau ingat masa kecil di Biak & benar orang bilang kalau BIAK itu adalah (B)ila (I)ngat (A)kan (K)embali

Tuhan Tidak Pernah Punya Rencana

Seringkali kita mendengar orang mengatakan “mungkin Tuhan punya rencana lain”.  Sebetulnya Tuhan tidak pernah punya rencana, yang Tuhan punya hanya “kehendak” atau “takdir”. Dalam agama Islam ada rukun Iman yang salah satunya adalah beriman/percaya terhadap takdir Allah yang baik maupun buruk. Jadi jelas segala sesuatu yang kita alami baik atau buruk itu adalah kehendaknya & kita harus siap menerimanya. Kadang apa yang kita alami adalah juga sebab-akibat dari perbuatan kita sendiri.

Rencana adalah untuk kapasitas manusia karena dengan segala keterbatasannya manusia merancang sesuatunya terlebih dahulu sebelum melaksanakannya dan rencana itupun bisa terlaksana bisa juga tidak. Tuhan tidak perlu berencana untuk melakukan sesuatu tapi cukup berkehendak dan segalanya pasti terjadi. Kehendak Tuhan ada yang bersifat mutlak ada juga yang fleksibel. Kematian adalah salah satu kehendak Tuhan yang mutlak, hal ini tercantum pada firmanNya dalam Al-Quran yang berbunyi “Setiap makhluk yang bernyawa pasti akan merasakan mati“. Sedangkan kehendak Tuhan yang fleksibel salah satunya adalah nasib. Dalam Al-Quran disebutkan : ” Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya “. Ini menandakan bahwa walaupun kehendak Tuhan yang berlaku tapi Tuhan tidak dholim/semena-mena terhadap hambanya. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah mungkin akan mengubah nasib orang/kaum jika orang/kaum itu mau berusaha mengubah nasib mereka sendiri. Sesungguhya Tuhan maha baik.

Jadi sangat tidak pantas jika kita mengatakan Tuhan punya rencana, itu bisa digolongkan dalam perbuatan syirik (menyekutukan/mensejajarkan Tuhan dengan makhluk lain) & itu dosa besar.

Biasanya perkataan itu dilontarkan oleh orang yang mengalami sesuatu yang tidak dikendakinya seperti kekalahan, kekecewaan, penyesalan dsb.

Saya pernah melihat di televisi, seorang publik figur masuk penjara karena narkoba dan dalam penyesalannya dia mengatakan “Saya yakin Tuhan punya rencana lain”. Menurut saya orang itu hanya berusaha menghibur diri dan malu mengakui kesalahannya. Seharusnya dia lebih introspeksi bahwa masalah itu adalah akibat perbuatannya sendiri dan  itu adalah kehendak Tuhan sebagai hukumannya di dunia.